#2 Peleburan dalam Kehidupan

Sebuah Konvergensi


Yuhuu guys...

Kali ini kita membahas tentang "Konvergensi Media". Aduh.. kok berat. Kita mulai dengan awalan yang mudah, ya. Teknologi sangat dekat dengan kehidupan manusia, baik untuk menunjang kehidupan manusia atau sebagai "teman" bagi manusia. Kemajuan teknologi bisa merubah kebiasaan manusia, dari yang awalnya menggunakan banyak peralatan menjadi satu peralatan. Itulah yang disebut dengan konvergesi (peleburan) media. Henry Jenkins, seorang sarjana media Amerika yang pada saat ini bekerja sebagai rektor Komunikasi, jurnalistik, dan seni sinematik. Ia mendefinisikan bahwa konvergensi media adalah sebual aliran konten dalam platform media, yang memicu kerjasama antara industri dan media, serta menimbulkan adanya migrasi media. Fenomena konvergensi ini merupakan akibat dari kemunculan teknologi digital dan media baru. 


Wah jadi mikir, bentuk konvergensi media yang terjadi apa sih? Tentu guys-guys akan paham kalau ada contohnya. Contoh yang aku sajikan adalah tentang game. Siapa sih yang tidak tahu game? Game adalah suatu layanan yang disediakan oleh penyedia atau pembuat teknologi, yang bertujuan untuk menghibur. Dengan kata lain, game adalah permainan yang disediakan teknologi. Pada awalnya, game disediakan oleh perangkat/ console game, misalnya playstation ataupun nintendo. Karena dulu uangku terbatas untuk membeli perangkat game, aku hanya bisa bermain game di arena bermain supermarket setiap akhir pekan. Saking asyiknya, aku bermain hingga tempat akan ditutup. Hingga beberapa hari kemudian, aku jarang untuk bermain ke sana. Akhirnya setelah melewati hari-hari yang membosankan, aku dibelikan "gamebooth". Yeee.. walaupun agak sedih karena gambarnya tidak berwarna, tapi aku harus tetap bersyukur. Aku senang sekali, walaupun aku hanya bisa menang dalam permainan tetris, tapi tak apa lah.

Saat kakakku masuk SMP, ia dibelikan komputer. Aku turut senang (karena ada game nya, hihi). Aku melihat-lihat, mulai dari game bawaan, game flash, ataupun game seperti Need for Speed ataupun GTA. Namun seperti pada zaman gamebooth, aku tidak berbakat bermain game, selalu kalah wkwk. Hanya game ringan seperti puzzle, feeding frenzy, insaniquarim, zuma deluxe, dan beberapa permainan lain yang bisa aku mainkan. Setelah mencoba berkali-kali, aku tahu ternyata di GTA ada cheat agar bisa menang. Saat mengotak-atik komputer, aku, kakakku, dan tetanggaku menemukan cheatnya dalam satu folder saat menginstall GTA.
Tetapi selalu ada cobaan yang menerpaku. Kalo tidak salah, gara-gara rumah bocor, komputer kami pun rusak :(. Yasudah, tidak bisa bermain lagi.

Beberapa tahun kemudian, aku diterima di SMP di kota Magelang. Ada seorang teman yang mengajariku menggunakan jaringan wi-fi sekolah (ya agak lemot sih) untuk mengakses facebook (fyi saat teman-temanku asyik fb an, sementara aku belum memiliki akun) dan bermain game online. Karena game besar ataupun game petualangan aku selalu kalah, akhirnya ia mengajariku "didi games", yaitu sebuah portal game online yang berisi archade game, game strategi (lebih mirip game house dan game flash), yang jika menang atau kalah bisa diulang pada level yang diinginkan. Karena lemotnya koneksi, aku sering pergi ke warnet sepulang sekolah, sehingga uang untuk jajan aku gunakan untuk ke warnet dekat sekolah. Selain untuk ke warnet, aku juga mampir ke tempat karaoke di pusat perbelanjaan dan menghabiskan uang saku ku disana.

Setelah lulus SMP, aku masuk SMK namun di kota lain (bukan Magelang). Ketagihanku kepada warnet membuatku pergi kesana setiap sepulang sekolah. Untung saja jarak sekolah, warnet, dan rumah dekat, sehingga tidak perlu khawatir tidak bisa pulang karena gak ada angkot. Untuk masalah karaoke, tidak ada di kotaku yang baru. Hanya bisa menyanyi di kamar mandi. Namun ketagihanku surut setelah banyak teman yang memiliki smartphone android. Aku yang tidak memiliki hp android hanya bisa menjadi joki game nya. Namun dengan adanya hp di smartphone tersebut membuatku hemat pengeluaran ke warnet. Tapi terkadang sedih, karena hanya bisa bermain di hp orang lain.

Akhirnya aku pun memiliki hp android. Langsung saja aku download semua game yang pernah kumainkan di hp temanku. Aku menemukan game "hago", sebuah aplikasi game android yang menyediakan beberapa game ringan dengan lawan online (bisa dengan id teman ataupun lawan random). Permainan yang disediakan beragam, seperti collapse namun dibuat dengan kearifan lokal seperti tahu tempe, adu domba, serta werewolf yang sebelumnya menjadi trend di line. Kini aplikasi ini semakin berkembang dengan adanya lawan main yang lebih dari satu (permainan kelompok), fitur chat dan karaoke. Fitur karaoke, mungkin adalah bentuk praktis daripada harus pergi ke tempat karaoke di mall (bisa menghemat biaya). Ada juga sebagai ajang mencari jodoh. Di dalam hago, pengguna bisa menghubungi lawan mainnya, bisa juga mengobrol saat bermain dengan mengaktifkan speaker dalam aplikasi. Semoga saja, suatu hari cerita cintaku berakhir di hago (dikira ftv).

Setelah kusadari, aku ternyata merasakan adanya konvergensi media. Dari game yang selalu menemani masa kecilku, hingga penyaluran kesukaanku yang awalnya adalah penyanyi kamar menjadi penyanyi bagaikan karaoke (yang low budget).

Jadi pesanku, jangan salahkan teknologi sehingga kau menyalahkan generasi setelahmu kehilangan masa kecilnya. Aku sampai sekarang masih bisa mengenang masa kecilku, namun terdapat dalam perangkat yang lebih modern. Bagiku, budaya atau hal yang pernah lalu tidaklah punah, namun mengalami pembaharuan ataupun melebur menjadi satu.
________

Daftar Pustaka
Akbar (2017). "Konvergensi Media Menurut Para Ahli dan Pengaruhnya terhadap Khalayak" dalam https://pakarkomunikasi.com/konvergensi-media/amp . Diakses pada tanggal 15 Maret 2017 pukul 16.32 WIB.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer