#3 Perubahan Sarana
Jurnalisme Online dan Kehidupan Sipil
Sumber
: insists.com
Hai guys, setelah sekian lama akhirnya ketemu lagi yup. Kali ini kita mau
bahas tentang media jurnalisme online. Waahh.. masih nyambung sama materi kemarin.
. Selain membahas pengertian dan
contohnya, kita akan membahas tentang jurnalisme online dapat menciptakan ruang
publik yang mendukung bentuk negara demokrasi, kenapa bisa? Duh makin pusing
yak, baru mau ngejelasin jurnalisme online tapi malah ditanyain ada hubungan
apa jurnalisme online sama kehidupan demokratis. Tapi tenang, semua yang
disampaikan gak bikin sepaneng. Kuy lah kita mulai.
Jurnalisme online apa sih? Jurnalisme online adalah bentuk baru dalam
dunia jurnalisme, yang mana merupakan kegiatan mengumpulkan, menulis, mengedit,
serta menerbitkan/ meyampaikan informasi menggunakan teknologi internet
(online). Prinsip-prinsip jurnalisme serta kode etik jurnalisnya juga sama,
hanya menggunakan media yang berbeda. Jurnalisme online diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yaitu: jurnalisme partisipatif dan citizen journalism. Apa
perbedaan dari kedua jenis jurnalisme online ini? Jurnalisme partisipatif
adalah kegiatan jurnalistik yang bahannya bisa berasal dari masyarakat umum
(misalnya rekaman, gambar, dll), namun dalam pembentukan produk jurnalistik,
hal itu dilakukan oleh perusahaan media jurnalistik. Sedangkan citizen journalism
adalah kegiatan jurnalistik yang bisa dilakukan oleh masyarakat/ citizens, mulai
dari pengumpulan bahan berita hingga pengolahannya, dan peran media sebagai
penyedia dan tempat untuk diskusi, dibuktikan juga dengan adanya kolom komentar.
Jurnalisme online dikatakan dapat membantu dalam penciptaan ruang dan
pembentukan opini publik, dikarenakan jurnalisme online selalu menyediakan
ruang untuk feedback, pembaca dapat berkomentar, membagikan, atau bahkan
mengirimkan berita, bisa membahas tentang info yang sedang trend ataupun
yang sedang memanas. Manfaatnya adalah keterbukaan informasi, terjadinya
komunikasi dua arah (media dan masyarakat), serta meningkatkan kekritisan
masyarakat akan suatu fenomena atau kejadian.
Sumber:
enciety.com
Tapi, bukannya
sudah ada kolom opini di media cetak?
Nah ini, di bagian awal sudah dijelaskan, perbedaan jurnalisme online dan
cetak adalah medianya. Lalu, dikatakan jurnalisme online membantu penciptaan
ruang publik, dikarenakan perilaku dan kebutuhan masyarakatlah yang lebih
sering menggunakan media online untuk mengakses berbagai macam hal. Oleh sebab
itulah, banyak media cetak yang beralih ke bentuk online. Ada yang seluruhnya
berpaling ke online, namun ada juga yang masih mempertahankan bentuk cetaknya. Media
online dinilai menjangkau lebih banyak khalayak, menghemat biaya percetakan
bagi perusahaan di bidang jurnalistik, serta praktisnya mendapat serta merespon
informasi bagi khalayak.
Jika dilihat dari sisi sejarah, jurnalisme online di Indonesia
bermunculan setelah terjadinya reformasi, misalnya detik.com dan bidik.com,
yang sudah langsung menggunakan media online. Namun ada juga media yang awalnya
merupakan media cetak, namun merambah ke media online, misalnya Kompas dan Media
Indonesia. Namun kita akan membahas tentang Koran, yang mungkin beberapa orang
asing dengan Koran ini. Namanya adalah “The Jakarta Post”, yaitu Koran yang
diterbitkan, berisi berita local maupun internasioal, namun berbahasa inggris.
Sumber:
The Jakarta Post sumber:
astroawani.com
Dikutip dari kompasiana.com, The Jakarta Post
menyediakan portal online demi bisa lebih dekat dengan pembaca dan mengikuti
perkembangan teknologi. Fitur yang ditawarkan oleh media ini juga beragam,
antara lain:
1. Digital (penataan layout
yang menyajikan teks, foto, dan video agar memudahkan dalam membaca
berita),
2. Virtual (penyediaan data dengan bentuk grafis dan video digital),
3. Networked (fitur untuk berbagi ke media lain),
4. Interactivity (penyediaan wadah untuk interaksi masyarakat berupa kolom komentar)
5. Hypertextual (penyediaan artikel lain yang berhubungan melalui hyperlink),
6. Stimulated (penyediaan video peristiwa)
2. Virtual (penyediaan data dengan bentuk grafis dan video digital),
3. Networked (fitur untuk berbagi ke media lain),
4. Interactivity (penyediaan wadah untuk interaksi masyarakat berupa kolom komentar)
5. Hypertextual (penyediaan artikel lain yang berhubungan melalui hyperlink),
6. Stimulated (penyediaan video peristiwa)
Sungguh disayangkan, media bagus seperti The Jakarta
Post yang terbit menggunakan bahasa internasional belum sepenuhnya mendukung adanya
ruang dan opini publik. Dikarenakan, The Jakarta Post masih menyediakan kolom
komentar saja di akhir artikel, atau dengan kata lain belum menyediakan ruang
untuk jurnalisme warga (citizen journalism). Mungkin lebih baik lagi jika The Jakarta Post menyediakan forum diskusi ataupun blog khusus bagi pembaca untuk mempraktekkan adanya Citizen Journalism.
Dengan adanya kemajuan teknologi dan bentuk baru jurnalisme, diharapkan semakin majunya juga media untuk menyampaikan informasi, penyedia ruang publik, serta pembentukan opini masyarakat (baik opini pada informasi maupun kepada media itu sendiri) dan masyarakat dalam menerima, merespon, atau bahkan menyampaikan informasi agar dapat dikaji terlebih dahulu, sehingga informasi menjadi akurat dan tidak terjadi miskomunikasi.
Sekian dulu ya guys tulisanku untuk minggu ini tentang jurnalisme online, kalo mungkin ada info yang terlewat, kritik, ataupun saran bisa disampaikan melalui kolom komentar ya.. :)
Sumber:
Siaperia, Eugenia, dan Andreas Veglis. 2012. The Handbook of Global Online Journalism. UK: Wiley-Blackwell (A John Wiley and Sons, Ltd. Publications)
Zahra, Vattaya (2018). "The Jakarta Post |dari Kertas ke Layar"
dalam https://www.kompasiana.com/vattayazahra5908/5b8de04c6ddcae357915244a/the-jakarta-post-dari-kertas-ke-layar
Sumber:
Siaperia, Eugenia, dan Andreas Veglis. 2012. The Handbook of Global Online Journalism. UK: Wiley-Blackwell (A John Wiley and Sons, Ltd. Publications)
Ivony (2017). "Jurnalistik Online - Pengertian, Prinsip, dan Karakteristik" dalam https://pakarkomunikasi.com/jurnalistik-online
dalam https://www.kompasiana.com/vattayazahra5908/5b8de04c6ddcae357915244a/the-jakarta-post-dari-kertas-ke-layar





Komentar
Posting Komentar