#7 Perubahan Kondisi

Teknologi dan Transformasi dalam Pekerjaan Baru: 
Apakah Kondisi Pekerja di Jurnalisme (Online) Mengalami Perubahan?

sumber: google.com

pusing pala barbie
pala barbie
aw.. aw.. aw..
(aduh malah dangdutan sin, astaga wkwk)

yooo.. apa kabs, kembali lagi. Nah kita kan udah bahas tentang jurnalisme, medianya, trus sampai adanya jurnalisme robot. Nah dengan adanya semua kemajuan ini, apakah pekerja jurnalis juga mengalami perubahan? Perubahannya akan membuar jurnalis lebih baik atau malah bikin pusing? kuy lah kita bahas bareng.

Kapitalisme Baru, Teknologi, dan Jurnalisme
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kapitalis adalah orang-orang yang memiliki modal dan memiliki kekuasaan. sedangkan kapitalisme adalah sistem atau paham ekonomi yang modalnya berasal dari modal sendiri atau perusahaan swasta yang bersaing di pasaran dengan bebas. Lalu apa hubungannya dengan media dan jurnalisme?
Seperti yang kita ketahui, banyak media dimiliki oleh pengusaha atau politisi yang memiliki otoritas dalam pembentukan opini masyarakat. Jika diperhatikan, media nampak menjadi objek untuk mempopulerkan pengamatan dalam sektor yang berbeda dalam pasaran pekerja kontemporer. Pertumbuhan literatur dlm organisasi dalam pekerja kapitalis menyarankan jika "semua pekerjaan, termasuk jurnalis, menjadi subjek untuk membiasakan, membebaskan (freelancing), dan rentang kontrak tak permanen, fleksibilitas, dan kewaspadaan.  Intinya, peran jurnalisme dalam ranah online, secara tidak langsung harus menyesuaikan dengan kemajuan informasi dan keinginan masyarakat. Jadi, seringkali keberadaan konten bukan menjadi produk informasi yang ingin disampaikan media, namun pemenuhan terhadap informasi yang diinginkan masyarakat maupun pemilik media, sehingga mau tidak mau pekerja berita juga mengalami perubahan dalam pekerjaanya.
  
Transformasi Pekerjaan Baru
Pekerja berita adalah subjek utk perubahan yg lebih luas di dalam organisasi yg bekerja di industri kreatif. adanya kemajuan ini menyebabkan kaburan batas yang jelas, bukan hanya sekedar antara kerja dan waktu luang atau professional dan kehidupan pribadi, namun juga beserta organisasi media: diantara manajemen dan karyawan dan antara produser dan “orang yang terbentuk sbg audien.” Dalam lingkungan yang berubah ini, posisi individu media professional berubah jauh lebih tidak benar, yang mana memimpin Media untuk menyarankan jalur karir di media akan makin menjadi berkarakteristik biasa saja dan menjadi pekerjaan yang tidak pasti, permintaan tinggi untuk fleksibilitas, dan konvergensi yang sebelumnya merupakan tugas yang berbeda dan bertanggung jawab. Pekerjaan baru tersebut bercirikan sebagai berikut:
1. Pekerjaan atipikal, disebut sebagai pekerjaan tidak tentu/ tidak permanen
2. Pekerjaan freelance, dg upah rendah biasa ditemukan dlm jurnalisme lokal, yg mana pengalaman koresponden dlm bersaing dg citizen jurnalis
3. Adanya kontak berkala dan pekerjaan paruh waktu 
4. Memiliki fleksibilitas alam bekerja dan keahlian ganda jurnalis
5. Bertransformasi menjadi jurnalisme media dan jurnalis sendiri juga sebagai penghasil konten
6. Perluasan pekerjaan. Dengan adanya banyak bentuk baru dan konten, malah menambah lapangan pekerjaan
7. Peningkatan beban kerja, dg kemajuan dan banyaknya tuntunan, seringkali jurnalis merasa terbebani dan bekerja di bawah tekanan
8. Pekerja mengalami kekurangan waktu, seperti idealnya orang bekerja, pekerja berita bisa saja menghabiskan waktu bekerja karena tingginya kebutuhan informasi dan cepatnya pendistribusian berita.
9. Rasa kedekatan antara penulis berita dengan audiens
10. Peningkatan meja kerja. Jadi pekerja lebih sering berhadapan dengan layar daripada turun ke lapangan

sumber: bogrotter.bandcamp.com

Selain Kualitas, bagaimana dengan nasib pekerja berita?
jika dilihat dari ciri-ciri transformasi pekerjaan serta banyaknya tuntunan skill jurnalis, tidak bisa dipungkiri jika pekerja berita mengalami tekanan. Menurutku, penting untuk selalu mengawasi evolusi dalam pekerjaan dan organisasi pekerja dalam industri pemberitaan, terutama dlm menyajikan apa yang paling tren, tidak hanya mengabarkan tapi bahkan bisa memperbaiki (bukan malah memperburuk). Penting juga mencerminkan bagaimana jurnalis dapat memberdayakan diri mereka utk mengatasi perubahan, ketidakpastian, dan permintaan pekerjaan berita kontemporer.
Bisa dilakukan dengan cara pembagian kerja yang baik. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, adanya jurnalisme online bisa membuka banyak lapangan pekerjaan. Prinsip kebebasan juga, jadi tidak terikat dengan kepentingan pemilik media (sepertinya masih sulit untuk diterapkan), juga menjadi faktor penyebab jurnalis menjadi tertekan, sehingga untuk menyuarakan pendapatnya jurnalis lebih memilih menulis informasi di platform berupa blog atau website pribadi. 
Jurnalis adalah manusia, bukanlah mesin penghasil berita. Jurnalis akan lebih senang diaja berunding bukan dipaksa untuk mengolah bahan informasi yang dirasa kurang sesuai.

sekian untuk tulisanku kali ini, ini cuma pandanganku aja ya. Mungkin yang ngerasa kurang srek apa mau bahas lebih dalam, bisa tulis yup di kolom komentar.
Sampai jumpa...


Referensi:
Siaperia, Eugenia, dan Andreas Veglis. 2012. The Handbook of Global Online Journalism. UK:          Wiley-Blackwell (A John Wiley and Sons, Ltd. Publications)

Komentar

Postingan Populer